5 Fakta Mengenai Penyakit Influenza

Sumber foto : Freepik

Mengalami gejala batuk tidak berarti seseorang terinfeksi virus corona, lho. Influenza atau flu adalah infeksi virus yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru dengan gejala batuk, sakit kepala, hidung tersumbat serta sakit kepala. Dilansir dari Women Health’s, terdapat kutipan dari William Schaffner, seorang spesialis penyakit menular yang mengatakan bahwa memang sulit membedakan gejala influenza (flu) dan virus corona.

Sumber foto : Freepik

Baik flu dan virus corona sama-sama menyerang pernafasan manusia. Flu menyebar melalui percikan liur di udara yang tidak sengaja terhirup. Jika kamu menyentuh permukaan benda yang terdapat percikan liur penderita flu. hal tersebut dapat pula menjadi sarana penyebaran flu. Namun, kedua virus ini memiliki karakteristik dan berasal dari golongan yang berbeda. Yuk cari tahu fakta-fakta mengenai influenza!

1. Gejala Influenza

Sumber foto : Freepik

Gejala influenza yang berbeda dengan virus corona adalah sesak nafas. Penderita influenza tidak mengalami gejala ini. Adapun gejala-gejala yang dialami oleh seseorang apabila terinfeksi virus influenza adalah demam, pilek, hidung tersumbat dan batuk. Gejala yang paling umum dialami adalah sakit kepala dan pilek. Influenza merupakan penyakit yang mudah menular terutama pada hari ke 3 dan 4 setelah terinfeksi. 

Virus ini menyerang tenggorokan, jadi tak ayar apabila penderitanya merasakan sakit tenggorokan. Anak-anak yang berusia di bawah 6 tahun rentan terkena flu (influenza). Banyak yang mengira jika flu sama saja dengan common cold (batuk pilek, atau terkadang disingkat bapil). Sebetulnya, gejala antara batuk pilek dan flu berbeda karena flu menunjukkan gejala-gejala lebih parah dan menyerang dadakan.

2. Penyebab dan Faktor Risiko Influenza

Sumber foto : Freepik

Apa yang jadi penyebab dari influenza (flu)? Virus ini adalah virus yang mudah ditularkan antar individu. Apabila tak sengaja terhirup percikan liur dari penderita influenza yang tersebar di udara, maka sangat rentan untuk tertular. Adapun beberapa faktor yang meningkatkan risiko tertular virus influenza yaitu usia. Influenza cenderung menyerang balita (usia 6 tahun ke bawah) dan lansia. 

Sistem kekebalan tubuh yang rendah dapat menjadi faktor seseorang terinfeksi virus ini. Kortikosteroid, pengobatan kanker dan HIV/AIDS dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Penderita penyakit kronis seperti asma, jantung dan diabetes pun memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi virus corona. Wanita hamil di trimester dua dan tiga pun memiliki risiko influenza yang cukup tinggi. 

3. Vaksin untuk Infeksi Virus Influenza

Sumber foto : Freepik

Vaksin influenza bekerja dengan cara membangun antibodi dalam tubuh seseorang untuk melawan virus influenza. Vaksin influenza butuh waktu sekitar dua minggu untuk bekerja menciptakan antibodi dalam tubuh seseorang. Di iklim tropis seperti di Indonesia, wabah flu bisa terjadi kapanpun. Oleh karena itu, penting untuk mencegah wabah influenza dengan melakukan vaksin influenza.

WHO merekomendasikan vaksin influenza untuk anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun, orang lanjut usia (lebih dari 65 tahun), wanita hamil, pekerja medis, serta orang yang menderita penyakit kronis. Pemberian vaksin influenza dilakukan sekali setiap tahun karena virus influenza terus bermutasi, sehingga tiap tahun muncul strain baru. 

4. Pengobatan Influenza

Sumber foto : Freepik

Influenza umumnya dapat sembuh sendiri dalam kurun waktu 4 sampai 9 hari. Namun, untuk meringankan gejala influenza, kamu dapat memperoleh obat penurun panas atau pereda nyeri yang diberikan oleh dokter, Parasetamol dan Ibuprofen misalnya. Apabila kamu memiliki daya tahan tubuh maksimal, influenza akan sembuh dengan sendirinya. 

Salah satu cara yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh adalah dengan beristirahat. Jadi, biasanya dokter akan menyarankan para pasien yang terjangkit influenza untuk banyak beristirahat. Konsumsi vitamin C dikenal efektif juga lho untuk meningkatkan imun tubuh! Pada beberapa kasus, dokter akan memberi beberapa suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak terjadi komplikasi dengan penyakit lain.

5. Perbedaan Gejala Influenza dan Virus Corona

Sumber foto : Freepik

Terdapat perbedaan gejala yang cukup signifikan antara influenza dan virus corona, salah satunya adalah sesak nafas. Bersin merupakan salah satu gejala dari influenza. Hidung mampet dan berair merupakan salah satu gejala dari influenza. Pada kasus COVID-19, gejala yang dirasakan adalah pernafasan yang terasa sesak.

Menurut CDC (Centers for Disease Control), terdapat gejala baru virus corona seperti diare, mual muntah, pilek serta gejala dermatologis seperti kemerahan pada kulit. Terdapat gejala baru COVID-19 bernama Happy Hypoxia dialami tanpa gejala. Meski gejala tidak muncul, tapi kadar oksigen di tubuh para pengidap happy hypoxia sudah sangat rendah dan organ-organ vitalnya sudah mengalami kerusakan parah. Tidak jarang happy hypoxia menyebabkan kematian pada pasien Covid-19, padahal sebelumnya terlihat sehat-sehat saja. 

Download Aplikasi Fazzdoc Yuk!

Kamu bisa menemukan ribuan dokter serta rumah sakit terbaik untuk melalui aplikasi Fazzdoc! Temukan solusi kesehatanmu dengan mudah di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.fazzdoc.app untuk Playstore dan https://apps.apple.com/id/app/fazzdoc-fazz-doctor-booking/id1499323746 untuk App Store.

Share