4 Faktor Risiko Kematian Covid-19

Sumber: Freepik

Masih seputar pandemi Covid-19 yang tidak ada habisnya, baru-baru ini media dikejutkan dengan gejala baru, yaitu happy hypoxia. Gejala baru tersebut dianggap sebagai pembunuh diam-diam pada pasien Covid-19. Selain itu, faktor-faktor lain, seperti keterbatasan fasilitas kesehatan, penyakit bawaan atau komorbid, dan faktor usia menjadi penyebab risiko kematian pada pasien Covid-19. Simak pemaparan tentang faktor risiko kematian Covid-19 di bawah ini yuk! 

1. Keterbatasan Fasilitas Kesehatan

Surgeons interacting with each other in operation room Free Photo

Sumber: Freepik

Bagi mereka yang jauh dari fasilitas kesehatan, penanganan terhadap COVID-19 yang dilakukan oleh petugas kesehatan juga akan terhambat. Setelah pasien datang ke rumah sakit dan diperiksa oleh dokter, barulah pasien dirujuk ke rumah sakit tujuan. Selain itu, bagi mereka yang memiliki kesulitan untuk mengakses rumah sakit, biasanya memilih puskesmas untuk memeriksakan diri.

Sedangkan, tidak semua puskesmas menyediakan layanan RT-PCR test untuk mendeteksi keberadaan virus corona. Keterlambatan penanganan juga bisa disebabkan oleh rumah sakit yang penuh dan kapasitas yang terbatas. Padahal pasien yang sudah terinfeksi virus corona harus langsung ditangani dengan cepat dan tepat. Selain itu, penggunaan ventilator menjadi alat yang penting untuk membantu pernapasan, saat ada pasien yang fungsi paru-parunya memburuk. Jika hal ini tidak segera diatasi, pasien bisa mengalami gagal nafas. Jumlah ventilator di rumah sakit juga umumnya terbatas.

2. Penyakit Komorbid

Close up of asian man's hands using lancet on finger to check blood sugar level by glucose meter Premium Photo

Sumber: Freepik

Penyakit komorbid atau yang disebut dengan penyakit penyerta menjadi risiko yang paling tinggi dalam kematian akibat infeksi virus corona. Virus corona rentan menginfeksi orang-orang yang sebelumnya memiliki penyakit bawaan seperti penyakit jantung, diabetes, hipertensi dan penyakit paru-paru. Dari data yang dilansir dari Covid-19.go.id penyakit penyerta pada mereka yang positif terinfeksi virus corona yang paling banyak adalah hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronis.

Dari data tersebut, sebanyak 53,9 persen adalah pasien yang menderita hipertensi. Kemudian diikuti dengan 36 persen pasien yang menderita diabetes melitus. Hipertensi dan diabetes melitus juga masih menduduki peringkat teratas penyakit komorbid yang menyebabkan kematian pada penderita COVID-19. Oleh karena itu, jika kamu atau anggota keluarga memiliki penyakit bawaan, sebaiknya melakukan perlindungan ekstra di tengah pandemi seperti sekarang ini. 

3. Happy Hypoxia

Doctor in purple uniform and shethoskope on a neck holds patient's hand with oximeter at patient's finger. white table. medical concept. Premium Photo

Sumber: Freepik

Happy hypoxia dianggap sebagai pembunuh diam-diam karena pasien Covid-19 yang mengalami happy hypoxia bisa beraktivitas seperti biasa tanpa gejala apapun. Padahal, organ-organ tubuh mereka kekurangan oksigen. Pada pasien Covid-19 yang mengalami hipoksia, kadar oksigen dalam tubuh mereka bisa mencapai 50% dan mereka belum merasakan gejala apapun.

Saat saturasi oksigennya sudah menurun drastis, pasien akan menunjukkan kondisi yang parah, sehingga harus segera diberikan alat bantu napas. Meski gejala tidak muncul, tapi kadar oksigen di tubuh para pengidap happy hypoxia sudah sangat rendah dan organ-organ vitalnya sudah mengalami kerusakan parah. Tidak jarang happy hypoxia menyebabkan kematian pada pasien Covid-19, padahal sebelumnya terlihat sehat-sehat saja.  

4. Faktor Usia

Senior couple hugging at home Free Photo

Sumber: Freepik

Salah satu faktor risiko kematian pada kasus COVID-19 adalah faktor usia, terutama lansia. Sejauh ini, virus corona memang lebih sering menyebabkan gejala yang berat, bahkan kematian pada lansia daripada orang dewasa dan anak. Kematian paling banyak terjadi pada penderita virus corona yang berusia 80 tahun ke atas, dengan persentase mencapai 21,9%.

Seiring bertambahnya usia seseorang, tubuh akan mengalami berbagai penurunan akibat proses penuaan. Sistem imun sebagai pelindung tubuh pada lansia tidak dapat bekerja dengan maksimal layaknya saat masih muda. Akibatnya, sulit bagi mereka yang sudah lanjut usia untuk melawan bakteri atau virus penyebab penyakit, seperti infeksi virus corona. Selain itu, tak sedikit lansia yang memiliki penyakit bawaan kronis, sehingga meningkatkan risiko dua kali lipat bagi lansia yang terinfeksi virus corona. 

Download Aplikasi Fazzdoc Yuk!

Kamu bisa menemukan ribuan dokter serta rumah sakit terbaik untuk melalui aplikasi Fazzdoc! Temukan solusi kesehatanmu dengan mudah di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.fazzdoc.app untuk Playstore dan https://apps.apple.com/id/app/fazzdoc-fazz-doctor-booking/id1499323746 untuk App Store.

Share