4 Fakta Klaster COVID-19 di Fasilitas Kesehatan (Faskes)

Sumber foto : Freepik

Fasilitas kesehatan (faskes) adalah istilah umum yang merujuk kepada sarana atau prasarana atau perlengkapan yang diwujudkan dalam bentuk pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pihak swasta bagi masyarakat dengan tujuan untuk menjaga atau meningkatkan kesehatan melalui tindakan preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Adapun beberapa jenis faskes adalah puskesmas, bidan, rumah sakit dan posyandu. Sejatinya, ketika hendak memeriksakan kondisi tubuh atau berobat, masyarakat datang ke faskes tetapi faskes tak luput menjadi salah satu klaster COVID-19. 

Sumber foto : Freepik

Dilansir dari Liputan 6 (11/8), di Jawa Barat terdapat 28 klaster COVID-19 di fasilitas kesehatan. Data tersebut diperoleh dari Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang dihimpun per 27 Juli 2020. Berdasarkan penelusuran dari sumber yang sama diketahui bahwa terdapat penuturan dari Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito yang mengungkapkan bahwa tingginya kasus virus corona di Indonesia disebabkan munculnya klaster-klaster baru, salah satunya klaster rumah sakit. 

Sumber foto : Freepik

Serta berdasarkan penelusuran melalui situs CNN Indonesia pada Senin (31/08), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat ada 100 dokter yang gugur per tanggal 30 Agustus 2020 dan berdasarkan data yang diperoleh, kasus paling banyak berada di Jawa Timur. Menelisik lebih dalam perihal klaster fasilitas kesehatan dari sumber Kompas (19/5) dan @pandemictalks, dibahas lebih lanjut mengenai klaster COVID-19 di tenaga medis seperti PPDS (Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis) yang juga tak luput dari paparan virus corona. Mari bahas lebih lanjut mengenai klaster fasilitas kesehatan.

1. Klaster Rumah Sakit di Jawa Barat

Sumber foto : Freepik

Menurut Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Dewi Nur Aisyah menyampaikan, klaster fasilitas kesehatan di Jawa Barat paling banyak merupakan rumah sakit. Terdapat 24 klaster rumah sakit dengan 156 kasus karena dimungkinkan rumah sakit lebih tinggi risiko penularan COVID-19.

Rumah sakit yang menjadi klaster penularan virus corona tidak hanya rujukan COVID-19 saja melainkan non rujukan mengingat pasien yang terinfeksi virus corona dapat tidak menunjukkan gejala (asymptomatic). Kemungkinan, terdapat individu yang pergi ke rumah sakit non rujukan COVID-19 karena tidak merasakan gejala dari virus tersebut. 

2. Klaster Puskesmas dan Bidan

Sumber foto : Freepik

Tidak hanya rumah sakit yang menjadi klaster virus corona, terdapat tiga klaster puskesmas dengan total 18 kasus COVID-19. Kemudian ada satu klaster dari bidan dengan 3 kasus COVID-19. Berdasarkan penuturan dari Dewi Nur Aisyah, Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19, “Ada 61 dari 177 kasus ini masih dalam verifikasi. Yang jelas ini masuk ke dalam klaster-klaster fasilitas kesehatan,”. 

Kemunculan klaster Puskesmas Cigandamekar di Kuningan, Jawa Barat, kini terancam masuk ke zona merah COVID-19. Dilansir dari situs cirebon.tribunnews.com (7/9), penularan virus corona di puskesmas diakibatkan penerapan protokol kesehatan yang kurang disiplin seperti contohnya penggunaan masker dan menjaga kebiasaan warga untuk hidup sehat. 

3. Protokol Kesehatan di Faskes

Sumber foto : Freepik

Faskes dapat menerapkan protokol kesehatan yang ketat agar bebas dari Covid-19. Caranya, tenaga kesehatan wajib menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Fasilitas rumah sakit juga harus diawasi secara ketat agar tidak menjadi tempat penularan virus corona. WHO dan CDC merekomendasikan bagi tenaga kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi dengan mengurangi risiko pada fasilitas, mengisolasi pasien bergejala secepatnya dan melindungi tenaga kesehatan. 

Gaun medis adalah salah satu Alat Pelindung Diri (APD) yang wajib dikenakan para tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 atau orang yang dicurigai sudah terinfeksi serta sarung tangan medis, masker khusus seperti masker N-95, face shield, penutup kepala dan sepatu pelindung. Selain menerapkan protokol kesehatan tersebut, perlu dilakukan desinfeksi di lingkungan sekitar klaster (faskes) serta melakukan testing untuk deteksi virus serta pengecekan (tracing) terhadap orang-orang yang sebelumnya melakukan kontak dengan kasus yang terkonfirmasi.

4. Ketersediaan Tempat Tidur di Rumah Sakit COVID-19

Sumber foto : Freepik

Berdasarkan penelusuran hingga pada 6 September 2020, sebanyak 77 persen dari 4.456 tempat tidur ruang isolasi di rumah sakit rujukan sudah terisi oleh pasien Covid-19. Berarti, hanya tersisa 23 persen dari total tempat tidur ruang isolasi di DKI Jakarta. Sementara itu, 83 persen dari 483 ruang ICU di rumah sakit sudah terisi oleh pasien COVID-19. Sisa jumlah tempat tidur rumah sakit Covid-19 hanya 18.630 bed. 

Bed Occupancy Rate (BOR) nasional naik 8,8 persen menjadi 49,8 persen. Padahal, WHO memberikan standar BOR sebuah daerah maksimal 60 persen. Dalam rentang waktu 17 hari sejak 22 Agustus 2020, terjadi penambahan pasien isolasi di rumah sakit sebanyak 1.858 orang. Memperhatikan kapasitas tempat tidur di rumah sakit untuk menangani Covid-19, pemerintah bisa membangun rumah sakit khusus atau mengalihfungsikan fungsi hotel menjadi rumah sakit darurat. 

Download Aplikasi Fazzdoc Yuk!

Kamu bisa menemukan ribuan dokter serta rumah sakit terbaik untuk melalui aplikasi Fazzdoc! Temukan solusi kesehatanmu dengan mudah di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.fazzdoc.app untuk Playstore dan https://apps.apple.com/id/app/fazzdoc-fazz-doctor-booking/id1499323746 untuk App Store.

Share